Hello!
Popular Posts
Categories
Archives
Recent Travel Journal
More Travel Journal
- Cerita dari XL Net Rally : The Unlimited Experience from #xlnetrally and #pb2010
- Hunting street + jadi turis norak Jakarta
- Catatan perjalanan : Nekat ke Bromo
- Pangandaran – Green Canyon revisited
- Indahnya pesisir selatan Garut
- Sawarna, surga banten Selatan
- Mendaki Rinjani, Gunung Tercantik Indonesia
- Saya pasti ke Festival Teluk Jailolo 2012!
- Bintang dari Rancabuaya
- Melihat Bandung dari Moko
- Perjalanan Egois ke Ujung Genteng (part 1)
- 10 Pantai paling dekat dengan Bandung
Recent Comments
- Bang Haydar on Saya pasti ke Festival Teluk Jailolo 2012!
- Boi on Menapaki eksotisme hutan tropis cibodas menuju puncak Gede
- Maharsi Wahyu K on Cerita dari Hari Waisak di Borobudur
- Tota_omega on Catatan perjalanan : Nekat ke Bromo
- Rebeccaindhira28 on Mendaki Rinjani, Gunung Tercantik Indonesia
Monthly Archives: August 2010
6 Hal yang sering diperdebatkan fotografer
Berbeda pendapat itu biasa. Namanya juga manusia, apalagi yang namanya fotografer. Kita punya kecenderungan untuk berbeda dalam segala hal. Seringkali perdebatan ini tidak pernah selesai, tetapi sangat menyenangkan untuk dibahas hehe. Contohnya seperti ini :
1. Nikon vs Canon
Ups, bukan maksud untuk memulai perang. Tapi inilah kenyataannya, Nikon dan Canon memang merebut pangsa pasar terbesar pada dunia fotografi. Mana yang lebih baik? Pilihannya terserah anda, tetapi sebaiknya memilih dengan cermat sesuai kebutuhan. Karena ketika kita membeli kamera, kita tidak hanya membeli kamera, tapi sebuah sistem. Dan ingat, kamera tidak menentukan hasil foto kita bagus atau tidak, tetapi fotografer-lah yang menentukan.
Untuk saya, saya tentu lebih memilih Nikon. Tak ada alasan khusus, it’s just feel right in my hand. They’re the best.
2. Film vs Digital
Meskipun sebagian besar kita pada saat ini menggunakan digital, masih ada orang yang tetap berpendirian bahwa kualitas film jauh lebih baik. Memang benar, tetapi jika kamera digital menawarkan kepraktisan dan kualitas yang hampir sama, mengapa menggunakan film?
Ahh, tetapi hasil foto dari film memang benar-benar khas. Real analog. Tiap film memiliki ciri khas berbeda. Walaupun sudah ada settingan seperti picture control, sulit untuk menyamai hasil dari film. Coba saja simulasikan Fuji velvia di kamera digital. *saya jamin hasilnya dangdut pisan*. Buat saya, saya lebih memilih digital karena film sudah sangat sulit mencari tempat untuk cuci-nya.
3. Color vs BW
Ini hanya preferensi pribadi, perdebatan yang sering muncul adalah mana yang lebih ‘artistik’. Well, coba lihat gallery ansel adams atau galen rowell. Saya pikir mereka cukup mewakili dua medium ini dan hasil keduanya luar biasa. Jadi, silahkan pilih yang sesuai hati. Saya lebih suka yang berwarna karena hidup ini memang penuh warna warni yang indah. *lebay*
4. RAW vs JPEG
Perdebatan yang satu ini juga cukup kompleks. Ada yang berpendapat bahwa RAW memiliki kualitas gambar tertinggi. Ada juga yang berpendapat RAW terlalu membuat repot karena proses editing-nya lebih lama. Ada yang bilang kualitas JPEG sama seperti RAW. Kalau saya, buat foto yang agak ‘serius’, sebaiknya menggunakan RAW. Tapi kalau cuma snapshot atau foto narsis, JPEG sudah lebih dari cukup.
5. Mac vs PC
Ada paradigma yang secara tidak langsung menyatakan bahwa orang atau pekerja di dunia kreatif menggunakan Mac. Tapi sebetulnya jika mereka menggunakan PC hasilnya akan sama saja. Well, Mac memang jauh lebih indah daripada PC (PC disini merefer ke komputer windows).
Saya sendiri lebih memilih Mac karena jauh lebih kuat dan stabil daripada PC. Macbook putih saya masih setia menemani walaupun selalu digunakan untuk ‘bekerja keras’, dan tentunya tidak pernah ada ritual ‘install ulang’ yang sangat melelahkan itu. :lol:
6. Fixed vs Zoom
Satu lagi yang banyak diperdebatkan, lensa fixed atau lensa zoom? Yang pro ke fixed beralasan bahwa fixed jauh lebih tajam dan lebih ‘artistik’. Yang senang zoom berpendapat fixed tidak fleksibel dengan kondisi pemotretan. Kalau saya sih senang pake dua-duanya hehe, tergantung dapet pinjeman yang mana. :D
Bagaimana dengan anda?
Memotret dunia lain (part 2)
Masih seri yang sama, di tempat yang sama. Tapi kali ini saya membawa kabar yang lebih buruk daripada hanya sensor yang kotor.
*ganti musik mencekam, jreng-jreng!*
Kamera saya mati! Hemmm, sebenarnya saya juga tidak kaget, karena shutter count-nya sudah lebih dari 100.000. Tapi rasanya ini bagian elektroniknya yang rusak. Karena baterenya agak sulit dimasukan karena menggembung sepertinya. Mudah-mudahan cuma batrenya saja yang rusak. *berdoa*
Jadi saya motret pake kamera punya si temen saya. Kali ini ga perlu dibalik-balik karena memang udah ada si canon 100 mm f2.8 dipasang ke 5D mark II punya om hardo. Oh iya, untuk background saya pakai kertas warna putih, dan lighting flash external biar kayak di studio gitu hehe.
Posted in Photo Story
Leave a comment
Memotret dunia lain
Pagi ini saya hunting makro bareng temen saya yang pake limade marktu ini. Hemm…
Ah, sudahlah, saya sedang malas cerita, anyway saya pake lensa nikon 50 mm f1.8 yang dibalik. Aperture di-set ke f/8, iso 400, shutter speed nebak-nebak. Lah? iya, karena ga ada lensa yang menempel di kamera, cuma didekatkan saja dengan mount kamera, otomatis metering mati. Jadi si sensor udah kalem ketiup angin sepoi-sepoi. Gak takut berdebu? Bah! Saya sudah tidak perduli lagi dengan debu di sensor (lihat postingan sebelumnya). :lol:
Macro photography? pretty new to me, so allow me to call it ‘ The other world ‘. Yeah, it’s really different world from us. Really small, but really beautiful. So here is the capture: (hati2 BW killer gan) :D


Ada burung di kamera saya
Tidaakkkk! Pagi ini pas saya lagi motret sunrise di ujung genteng atas genteng, saya melihat ada sesuatu yang janggal di hasil foto saya. Tadinya saya kira itu adalah burung yang lewat, but it’s so damn big for a bird! Setelah diperhatikan, maka saya pastikan itu adalah kotoran yang menempel pada sensor CCD si kamera saya.
Memang sensor kamera sudah agak kotor, tapi yang ini yang paling parah. Dicoba di-blow juga udah gak mempan. Ada yang tahu cara menghilangkannya? (tanpa harus ke tempat service nikon). Oh iya, kali ini shutter count sudah 130.000 +, tapi si d40 masih sehat-sehat saja sepertinya. Oh, well..

Cerita dari XL Net Rally : The Unlimited Experience from #xlnetrally and #pb2010
Bukan, ini bukan balapan rally mobil offroad. #xlnetrally adalah salah satu bagian dari acara Road to Pesta Blogger 2010. Intinya sih, XL ingin pamer menguji performa jaringan mereka pada jalur-jalur padat mudik lebaran. Pada drive test ini, XL juga mengajak para blogger dan media untuk menguji kondisi jaringan dari sudut pandang pengguna, daripada hanya sekedar menguji secara teknis.
Posted in Travel
Tagged blogger, drive test, kopdar, pb2010, semarang, xl, xl net rally, xlnetrally
31 Comments
Bike photoshoot
Just for fun, saya dan temen saya yang kebetulan suka sepeda dan kebetulan lagi bawa kamera, mengadakan sesi foto narsis sore-sore. Cahaya sore itu sungguh luar biasa menurut saya, perpaduan antara cahaya menjelang sunset tetapi berawan. Kampus juga lagi sepi karena lagi liburan sehingga kami bebas foto-foto.
Silahkan dinikmati, dan sebelumnya mohon maaf karena memang modelnya tidak terlalu sedap dipandang (sambil melirik orang berkemeja putih di foto paling bawah) :lol:
Posted in Photo Story
3 Comments
Catatan perjalanan : Nekat ke Bromo

Pada suatu hari yang cerah, saat saya sedang asik-asiknya mengerjakan proyek akhir, tiba-tiba datang seorang ‘iblis’ yang berkata, “wir ke bromo yuk”. Saya shock. “Muke gile lu, gue lagi ngerjain PA gini lu mau ajak ke bromo, udah mepet nih” gw mencoba menolak. Tetapi memang sang iblis punya naluri setan penggoda yang sangat kuat, “Udeh PA lu cuma gitu doank seminggu juga kelar, ntar gue bantuin dah”. Saya berfikir sejenak, lalu akhirnya iblis pun tersenyum penuh kemenangan. Continue reading



