5 Dosa Para Pendaki Gunung yang harus dihindari
ADA sebuah anggapan bahwa mendaki gunung itu adalah sebuah tindakan yang keren dan gagah. Ada rasa bangga ketika sudah menginjakan kaki di puncaknya. Namun, sadarkah kita bahwa kita yang mengaku pecinta, ataupun penikmat alam, bisa jadi adalah seorang perusak alam?
1. Melakukan kegiatan pendakian massal (non-konservatif)
Mungkin kita sudah tahu tentang sebuah brand perlengkapan outdoor yang melakukan pendakian massal ke gunung Semeru beberapa waktu lalu. Saya sempat diajak teman karena dalam iklannya pendakian ini dibumbui oleh kata-kata bersih-bersih gunung, tanam pohon, dan konservasi.
Kenyataannya? Semeru menjadi tempat sampah dan potensi rusaknya ekosistem makin besar.
Sebelum mengikuti pendakian massal, ada baiknya survey terlebih dahulu. Berapa kapasitas gunung tersebut, berapa jumlah pendaki yang dibolehkan ikut oleh panitia, dan hal yang terkait dengan konservasi lainnya. Hindari penmas yang hanya mencari laba semata.
Jadilah pendaki yang bertanggung jawab.
2. Andil besar mencemari lingkungan
Saya pernah naik gunung dengan seorang rekan yang kelihatannya sudah ‘senior’ dalam hal mendaki. Namun, ditengah perjalanan istirahat, saat ia memakan sebuah makanan ringan, dengan ringannya pula ia membuang sampah itu sembarangan. Itulah potret kebanyakan pendaki yang tidak paham akan konservasi.
Apa sulitnya sih membawa sampah di dalam tas?
Di lain waktu, saat saya sedang ingin mengambil air di sebuah mata air, terlihat seorang pendaki yang sedang menikmati ritual B*B di mata air itu!
Apa dia tidak berfikir orang akan minum dari sana? Sebegitu sulitkah menggali lubang di tanah? Kucing saja masih bisa lebih pintar!
Dan banyak juga pendaki-pendaki yang masih saja menggunakan bahan-bahan kimia yang bisa merusak. Jangan heran kalau menemukan bungkus sabun/shampo yang tergeletak dekat di mata air.
3. Bersikap acuh tak acuh dan pasif.
Menganggap tugas konservasi itu adalah tugasnya penjaga Taman Nasional, porter, dan LSM lingkungan. Padahal pendaki sendirilah yang punya bagian besar dalam menjaga lingkungan.
Juga tidak mengindahkan kearifan lokal yang telah ditetapkan masyarakat setempat. Tertulis ataupun tidak tertulis. Seringkali mitos-mitos mistis di gunung itu sebetulnya adalah usaha untuk konservasi dari masyarakat.
Jangan sampai bilang begini, ” Saya bukan pecinta alam, kok. Cuma penikmat alam. Jadi bukan tugas saya dong untuk konservasi?”
4. Merusak keasrian gunung
Tidak sulit menemui corat-coret vandalisme di bebatuan, batang pohon, bahkan pos pendakian. Mengambil flora & fauna langka seperti bunga edelweiss, bertindak sembrono sehingga mengakibatkan kebakaran hutan. Puntung rokok dan bekas api unggun yang masih menyala, membuka jalur yang tidak seharusnya, membuang tissue basah kotor seenaknya dan masih banyak lagi.
5. Tidak membagikan pengetahuan tentang pendakian konservatif
Tak dipungkiri, mendaki gunung sekarang sudah terkesan menjadi sebuah ‘wisata’. Apalagi banyak pengaruh dari acara televisi, film, blog, forum dan banyak media lainnya.
Membagikan semangat mendaki gunung kepada orang-orang baru tanpa dibarengi semangat konservasi hanya akan menjadikan para pendaki tersebut menjadi generasi pendaki yang cenderung antipati terhadap lingkungan dan hanya mementingkan kesenangan semata.
Sebagian dari kita mungkin pernah melakukan hal atas, secara sengaja maupun tidak sengaja. Yang pernah, tolong jangan diulangi lagi dan mari saling mengingatkan kepada rekan pendaki yang lain.
Semoga gunung-gunung Indonesia masih bisa dinikmati anak-cucu kita nantinya. Amin.
Salam lestari!








Sebenarnya filsafat dasarnya : Kita menikmati, orang lain menikmati, yang dinikmati pun ikut menikmati.
Kadang beberapa orang lupa berterima kasih kepada yang dinikmatinya tersebut..
bagus wir !
Makasih om diver!
Nice photos! Kami akan ke sana bulan Mei. Can’t wait!
Hi Adam. Mau kemana? :D
Waduh. I meant to comment on your Ende post! Me ke Flores bulan Mei.
Jorok bgt ya bab ditempat orang lain minum. Walo di gunung/hutan mestinya kan bisa mikir. Nice post Wira
Pemahaman yang dangkal..sayang sekali ngelihat kondisi (yang katanya) pecinta alam kalo sampai seperti itu tega melukai “alam”
Mari kita ikut jaga kebersihan dan kelestarian alam kita, untuk warisan anak cucu kita nanti
Yup, itu harus :)
orang BAB adalah yang paling sering buat gw emosi……
oic, sempet ramai juga di twit soal pendakian massal di Semeru kmrn. Somehow alam sudah sepatutnya dibiarkan alami :)
Jadi inget pernah ketemu sama bule di Rinjani. Poternya bawain barang2, sementara dia pegang trashbag di tangan, mungutin sampah2 sepanjang jalur untuk dibuang di tempat sampah pos2 istirahat.
Tertohok banget pas dia bilang dalam bhs inggris, “kalian orang Indonesia bisa-bisanya tidak menghargai keindahan alam seperti ini dengan buang sampah sembarangan, saya saja mencari-cari di negara saya tidak nemu tempat seindah ini.” Aihh :’(
iya miris banget yah…. :(
Blognya keren mas, saya juga suka foto2 jepretannya, saya baru belajar foto2 dan saya juga gak suka model…
mau kasih masukan aja :
3. Bersikap acuh dan pasif.
Acuh dalam EYD berarti Perduli mas :)
wah iya, makasih koreksinya mas :)
Blog yg sangat bagus mas! salam kenal ya, cheers :D
Jadi inget saya pernah diceritakan oleh teman saya, bahwa ketika selama teman saya ke bromo, ada seorang turis asing(bule) yang sepanjang perjalanan mengambil sampah dan dikumpulkan untuk dibuang ke tempat sampah, sementara beberapa turis lokal dengan santainya membuang sampah sembarangan, serius saya malu dan miris denger ceritanya
(mirip seperti cerita mbak mylittlecanvas)
but thanks for the tips and sharenya ya mas, semoga banyak yang membaca tulisan ini.
jd inget lagunya Ibu Rita Ruby H dulu nih…
pendaki gunung sahabat alam sejati jaketmu penuh lambang lambang kegagahan memproklamirkan dirimu pencinta alam sementara maknanya belum kau miliki…
ketika aku daki dr gunung ke gunung di sana kutemui kejanggalan makna banyak pepohonan merintih kepedihan di kuliti pisaumu yg tak pernah diam
batu batu cadas merintih kesakitan di tikam belatimu yg….( maaf lupa )..hanya untuk mengumumkan pada khalayak bahwa di sana ada kibar benderamu…
oh alam korban aku an
oh alam korban keangkuhan
maafkan mereka yg tak mau mengerti
arti kehidupan….
Salam kenal Cak Wira,sepaham dengan saya,saya sudah lama bermain dgn sampah terutama kawasan TN BTS,Bener2 menyakitkan saat lihat hal2 yg tabu dilakukan untuk merusak alam kita,tanpa mereka sadar…dan kita jgn pernah berhenti untuk lakukan yg terbaik untuk alam meski yg kita hadapi tidak mudah,kalo bukan kita lalu siapa?..
yang nulis pernah ikut penmas tapi tanpa konservasi nih.hehehe
pissss