Penyakit fotografer digital : pixel peeping

Mana yang lebih baik? Kamera ini atau kamera itu? Canon atau Nikon?

Pertanyaan itu seringkali ada di benak para fotografer, terutama saat ingin membeli kamera.

Dan biasanya saat-saat googling tentang kamera yang ingin dibeli, pada akhirnya akan terdampar di bagian sample photo. Nah, disininlah biasanya kita menilai hasil foto kamera tersebut (dan lensa).

Tetapi, terkadang kita terlalu berlebihan dalam memeriksa hasil foto ini. Para pixel peeper akan memeriksa dan membandingkan hasil foto dalam pembesaran 100 %, atau bahkan 200% !

Sebenarnya hal ini wajar saja,  kita membeli kamera dan lensa hingga puluhan juta tentunya ingin kualitas semaksimal mungkin. Well, tetapi terkadang sampai berlebihan hingga sampai ribut di forum-forum bahwa kamera nikon ini lebih baik dari kamera canon itu.

Pixel peeping bukan masalah, asal tidak dilakukan secara berlebihan. Lebih baik kita melihat kamera dari fitur-fitur, warna yang dihasilkan atau handlingnya. Karena saat ini hampir semua kamera mempunyai kualitas gambar yang sudah lebih dari cukup.

Bahkan Nikon d40 saya yang cuma 6 MP bisa untuk cetak sampai 24 x 20 inch.

Ingin pixel peeping? Coba ke pixel-peeper.com

Atau coba lihat gambar di bawah ini, diambil dari om kenrockwell. Atas nikon d200 dan bawah canon 5D.

Terbukti bahwa kamera fullframe memang lebih bagus..hiks *pengen pull prame*

Testing d90 autofocus

What? did you just said d90? Hehe.. :lol:

After spending almost four years using my trusty d40, i decided to upgrade. Well, there is no particular reason, my d40 is just work up until now. It has reached its 130.000 shutter count. I wonder why the shutter isn’t broken yet, because Nikon says it only has 100.000 count.

As for the d90, you know it’s really wonderful camera. I almost bought the d300, but when i tried my friend’s, the image quality is about the same. This also applied to d5000. Since i am not a sports shooter who need 8 fps burst and crazy 51 point autofocus, i went for d90, and feels happy. :D

This morning, i played futsal with my classmate. Just curious about the d90 autofocus capability, i bring it along. Paired  with 70-200 f2.8 VR, the tracking speed is very fast, but not as fast and accurate as the d300. It’s just a consumer grade autofocus. But, it’s world better than my old d40 hehe.

You can see the result below, have a nice light!

Continue reading

6 Hal yang sering diperdebatkan fotografer

Berbeda pendapat itu biasa. Namanya juga manusia, apalagi yang namanya fotografer. Kita punya kecenderungan untuk berbeda dalam segala hal. Seringkali perdebatan ini tidak pernah selesai, tetapi sangat menyenangkan untuk dibahas hehe. Contohnya seperti ini :

1. Nikon vs Canon

Ups, bukan maksud untuk memulai perang. Tapi inilah kenyataannya, Nikon dan Canon memang merebut pangsa pasar terbesar pada dunia fotografi. Mana yang lebih baik? Pilihannya terserah anda, tetapi sebaiknya memilih dengan cermat sesuai kebutuhan. Karena ketika kita membeli kamera, kita tidak hanya membeli kamera, tapi sebuah sistem. Dan ingat, kamera tidak menentukan hasil foto kita bagus atau tidak, tetapi fotografer-lah yang menentukan.

Untuk saya, saya tentu lebih memilih Nikon. Tak ada alasan khusus, it’s just feel right in my hand. They’re the best.

2. Film vs Digital

Meskipun sebagian besar kita pada saat ini menggunakan digital, masih ada orang yang tetap berpendirian bahwa kualitas film jauh lebih baik. Memang benar, tetapi jika kamera digital menawarkan kepraktisan dan kualitas yang hampir sama, mengapa menggunakan film?

Ahh, tetapi hasil foto dari film memang benar-benar khas. Real analog. Tiap film memiliki ciri khas berbeda. Walaupun sudah ada settingan seperti picture control, sulit untuk menyamai hasil dari film. Coba saja simulasikan Fuji velvia di kamera digital. *saya jamin hasilnya dangdut pisan*. Buat saya, saya lebih memilih digital karena film sudah sangat sulit mencari tempat untuk cuci-nya.

3. Color vs BW

Ini hanya preferensi pribadi, perdebatan yang sering muncul adalah mana yang lebih ‘artistik’. Well, coba lihat gallery ansel adams atau galen rowell. Saya pikir mereka cukup mewakili dua medium ini dan hasil keduanya luar biasa. Jadi, silahkan pilih yang sesuai hati. Saya lebih suka yang berwarna karena hidup ini memang penuh warna warni yang indah. *lebay*

4. RAW vs JPEG

Perdebatan yang satu ini juga cukup kompleks. Ada yang berpendapat bahwa RAW memiliki kualitas gambar tertinggi. Ada juga yang berpendapat RAW terlalu membuat repot karena proses editing-nya lebih lama. Ada yang bilang kualitas JPEG sama seperti RAW. Kalau saya, buat foto yang agak ‘serius’, sebaiknya menggunakan RAW. Tapi kalau cuma snapshot atau foto narsis, JPEG sudah lebih dari cukup.

5. Mac vs PC

Ada paradigma yang secara tidak langsung menyatakan bahwa orang atau pekerja di dunia kreatif menggunakan Mac. Tapi sebetulnya jika mereka menggunakan PC hasilnya akan sama saja. Well, Mac memang jauh lebih indah daripada PC (PC disini merefer ke komputer windows).

Saya sendiri lebih memilih Mac karena jauh lebih kuat dan stabil daripada PC. Macbook putih saya masih setia menemani walaupun selalu digunakan untuk ‘bekerja keras’, dan tentunya tidak pernah ada ritual ‘install ulang’ yang sangat melelahkan itu. :lol:

6. Fixed vs Zoom

Satu lagi yang banyak diperdebatkan, lensa fixed atau lensa zoom? Yang pro ke fixed beralasan bahwa fixed jauh lebih tajam dan lebih ‘artistik’. Yang senang zoom berpendapat fixed tidak fleksibel dengan kondisi pemotretan. Kalau saya sih senang pake dua-duanya hehe, tergantung dapet pinjeman yang mana. :D

Bagaimana dengan anda?

5 Manfaat motret Landscape

Buat sebagian orang, memotret landscape tentu sangat menyenangkan. Tetapi buat sebagian yang lain, bisa menjadi sangat sulit dan membuat frustasi. Tapi sebenernya apa sih manfaat kita motret landscape? Well, mari kita lihat !

1. Menjadi sehat

Memotret landscape adalah kata lain dari bangun pagi. Setelah kita bangun pagi, langsung deh kita olahraga. Lho, kok olahraga? Iya, kan kita mengejar matahari (cailah..). Kalau tidak buru-buru nanti kesiangan terus fotonya gak bagus lagi. Kan otomoatis kita bakal lari ke spot yang kita mau foto. Tapi jangan naik motor ya, itu mah sama aja. Coba jalan kaki atau naik sepeda.

Continue reading

You’re boring

You’re boring
Sorry, someone had to say it.
Your photos are predictable. Your insights are recycled. You don’t bring surprise with you when you enter a room.
That’s why people are ignoring you.
Which used to be fine, because you could just buy attention for your brand or your company or your sales efforts. But that half-price sale on attention is now over.
The only path left is to lean out of the edge and become interesting, noteworthy and yes, remarkable.

Hemm. Lagi iseng blogwalking nemu kata-kata seperti ini. Tetapi saya lupa kata-kata ini asalnya dari mana. Sebenarnnya kata photos adalah product. Biar pas dengan fotografi yah saya ganti saja. Yah, lumayan menyentil juga kan kata-katanya. Bagaimana menurut anda?

D40

No one, not even me who uses his cameras all day long, needs anything better than a D40. Guys who own fancy cameras often lack confidence so they poke fun at the D40, but I love it. I can make great photos with my D40, so if anyone tells you the D40 can’t make good photos, it’s because they’re crummy photographers.

lagi iseng-iseng browsing situs nya om ken rockwell, saya nemuin paragraf itu. It’s a wonderful quote i think (sambil melirik ke d40 saya yang shutter countnya udah 110.000 lebih :lol:

Penjurian Lomba foto “Save the Nature”

Karena dipaksa ade gw si alay buat jadi juri lomba foto sekolahnya yang bertema “save the nature”, akhirnya gw pulang juga ke rumah.  Berikut ini deskripsi foto-foto pemenangnya. Selamat dan semoga bisa berkarya lebih baik lagi!

Juara 1. Save the nature

juara 1 -save the nature

Foto ini terpilih karena mempunyai arti simbolis seperti judulnya. Save the nature. Kesesuaian dengan tema menjadi poin tertinggi dalam foto ini. Objek utama sebuah bola dunia yang dipegang oleh tangan menceritakan bahwa sesungguhnya dunia ini tergantung kita semua yang menghuninya.

Sang fotografer membuat foto dengan teknik yang membuat fotonya sedikit berbeda dari foto konvensional. Memanfaatkan kekurangan kamera menjadi kelebihan foto ini. ISO yang tinggi membuat foto sedikit grainy menambah efek moody dari foto hitam-putih. Ditambah dengan background hasil panning membuat foto ini sangat “surreal” dan dan akhirnya terpilih menjadi juara pertama. Continue reading

Fotografer, Mata, dan hal aneh lainnya

Fotografer. Kalau dipikir-pikir kita memang agak aneh, bukan? Kita tidak bisa berhenti. Kita berlari saat yang lain berjalan. Kita bekerja saat yang lain sedang bersantai. Kita tidak kenal yang namanya weekend, hari libur, bahkan tidak kenal waktu, kecuali itu berhubungan dengan sunrise atau sunset. Ketika ada pertandingan sepak bola di TV, kita tidak melihat pertandingannya. Kita melihat ke pinggir lapangan dan memperhatikan teman-teman kita memotret dan menghitung berapa jumlah lensa panjang yang berwarna putih atau hitam. Kita berjalan seperti orang yang kebingungan, melihat ke hal-hal aneh, berkeliaran di antara aktifitas orang-orang, berharap dapat diterima oleh mereka, menghilang perlahan, lalu mengantisipasi hal yang hampir tidak mungkin terjadi. Rasa ingin tahu yang luar biasa. kebanyakan orang mengira kita adalah orang-orang aneh dan memberi tahu anak mereka untuk menjauh dari kita. Continue reading