Dibawah Dinginnya Kabut Pagi Ranu Kumbolo

ranu alternate

PAGI itu tidak akan pernah lepas dari ingatan para pendaki Mahameru. Dingin menusuk, kabut bergulung di atas danau, seakan menyambut saya yang duduk bersama sahabat mencari hangat, sambil meminum kopi dari gelas yang sama.

Sesaat kemudian, mentari mulai muncul dari balik bukit. Memancarkan serpihan cahaya ke sekeliling lembahan. Merah muda, bak pipi seorang gadis jelita yang sedang tersipu. Pemancing mulai menambatkan umpannya, pendaki hilir mudik, dan saya masih memandang indahnya lukisan Tuhan ini.

Kehidupan pagi yang dimulai dengan cara yang sangat indah.

Before Sunrise Ranu Kumbolo

Inilah Ranu Kumbolo, surga-nya Mahameru. Tempat peristirahatan para pendaki yang akan, atau baru saja turun, dari Mahameru – puncak para dewa, tanah tertinggi di dataran Jawa.

Setelah sempat tersasar di malam hari karena menuruni punggungan yang salah, akhirnya saya sampai di ‘desa’ para pendaki Mahameru. Warna-warni tenda menghiasi pinggir danau ini. Danau dengan ketinggian 2500 meter diatas permukaan laut ini memang menjadi tempat favorit para pendaki di area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Saya sempat dua kali bermalam di Ranu kumbolo, saat perjalanan berangkat dan pulang. Tidak seperti Gunung Rinjani atau Gunung Gede yang memiliki beberapa jalur, semeru hanya memiliki satu jalur menuju Mahameru, sehingga mau tidak mau Danau ini akan terlewati.

Milky way show

Suguhan atraksi bimasakti saat malam hari juga menjadi salah satu momen yang tidak terlupakan. Sungguh malam yang sangat romantis. This is something that you didn’t see everyday.

Ranu kumbolo, sebuah lukisan alam yang begitu sempurna. Sebuah danau yang dikelilingi lembahan terjal yang gersang, dengan tanjakan cinta-nya yang membuat galau. Juga tanjakan galau dibalik tanjakan cinta yang membuat semakin galau (i named it). Karena ternyata jauh lebih menyakitkan daripada tanjakan cinta.

gulungan kabut pagi di atas danau

Dibalik itu semua, tempat ini adalah salah satu tempat yang membuat kita bersyukur, membuat kita tersenyum, membuat kita lebih menghargai hidup ini.

Terima kasih Mahameru untuk Ranu Kumbolo-nya, nanti saya akan kembali lagi, bersama orang yang saya cintai.

:)

Rakum dari Tanjakan Cinta

A little note

Oke, Ranu kumbolo emang indah. Tapi, please, kalo ente kesana dan buang hajat, tolong DIGALI dulu dan DIKUBUR yang bener! Jangan cuma ditaro pake batu (saya pernah kena jebakan betmen :hammer. Tissue basah juga tolong dikubur, atau lebih baik dibawa. Sampah juga jangan dibuang ke tempat pembakaran kalo yang kaleng atau plastik. Bawa balik sampah ente sendiri!

Cerita berikutnya : Menuju Tanah Tertinggi di Pulau Jawa

Comments

  1. says

    Jalur semeru banyak mas wira, termasuk lewat gunung ayek ayek, jadi ga ngelewatin pos satu dan seterusnya, tembusnya tepat di pos 4 ranu kumbolo hehehe.

  2. Eric says

    Halo, salam kenal Wira :)
    Mau minta masukan donk, saya ga sampe 2 mgg lagi mau berangkat ke Rana Kumbolo dan ke Pananjakan satu. Perjalanan kali ini bakalan kemping 2 malem.
    Pertanyaannya, apakah bisa nyaman membawa backpack plus sling utk peralatan kamera? :D Kyknya bodoh bgt nih pertanyaan, tapi bnr2 bingung kalo gear kgk dipisah hehehehe…
    Satu lagi, saya punya 1740, 24105, 50 dan 100mm. Saran Wira, saya sebaiknya membawa gear yg mana?

    Saya masih blank dgn kondisi disana soalnya hehehe…
    thanks a lot bro :)

    • says

      Halo mas Eric,

      Wow banyak sekali gear-ny :O
      Saran saya sih bawa satu atau dua lensa saja, misalnya 17-40 & 100, atau yang mana aja boleh hehe. Saya bawanya cuma 28 dan 50 (karena emang punya cuman itu hehe). Itu saya bawa di tas lowepro kecil, terus dicantol pake karabiner di dada. Soalnya backpack 40 liter saya udah penuh buat tenda/logistik dll.

      Trek Ranupane-Ranukumbolo lumayan nanjak terjal pas awal-awal, sisanya naik turun tapi gak terlalu curam. Saya waktu itu sekitar 3.5 jam. Sekalian sampai kalimati aja mas, edelweissnya keren2 hehe.

  3. Eric says

    Hehehe, ngumpulin dikit2 Bro :)
    1740 sih pasti pengen bawa, tinggal 100 atau 50 saya bingung. 50 menang di f1.4 tapi 100 menang di tele dan bisa macroan…. Which one to pick?? :((((

    Kalimati jaraknya brp lama lg dr Ranukumbolo ya? kebetulan 2 malam disana mgkn teman ada atur main kesana juga :D

    • Eric says

      Hehehehe, okeoke, thanks banget saran2nya Mas Wira, sedikit banyak membantu banget tuh :)

      Abis liat postingan yg di Kalimati, kok saya jadi jiper setengah matiiii :D
      hahahahahaha

      Thanks banyak info2nya ya Mas ;)

  4. nina fitriany says

    Setuju sama note nya!!!sekarang ranu kumbolo udah lebih parah dari wc umum….’harta karun’ dimana2….parahh……

  5. ary says

    Ddisebelah tanjakan cinta jga ada yg dnamakan tanjakan tinja….yg ngelewati bakal lebih galau….

  6. says

    penyampaian blognya keren, di pisah pisah jadi bacanya ngga males.
    Anwy aku juga pernah kena “ranjau” di jalur antar selter ranukumbolo – tempat ngecamp (ngecam di bawah bukit kembar), rasanaya jackpot banget.

  7. Eenk says

    Postingannya mas Wira bikin saya panas dingin..
    Semoga perdana k semeru juga bisa bersama orang yang saya cintai ^_^
    hope hope hope \(^O^)/

  8. AbestiaHaninil says

    foto2nya keren banget gan.
    merinding liatnya..
    pengen liat pake mata sendiri…
    like this pokoknya :)

  9. keplek says

    teringat 20 tahunan yang silam………
    .foto” saya kok gak ada yg sbagus adik ini ya hehehehe

  10. says

    kecantikan Ranu kumbolo memang ngangenin, semoga diberi kesempatan mengunjungi Rakum lagi someday, amin,
    walau sdh pernah kesana tetep mrinding liat foto-foto di atas,
    Rakum memang cantik sih,
    :)

  11. says

    Ah, belum genap sebulan saya ke Rankum dan ngecamp 3 malem disana, tapi udah kangen banget pengen balik lagi, dan next time pengennya bisa sampe ke Mahameru..:)

    fotonya keren bangets! :)

  12. emant says

    cerita daan foto fotonya bagus om suka banget sama tune nya, boleh tau pake kamera lensa n filter apa , selain itu apa lagi yang di perlukan buat LS fotografi heheh makasih

Trackbacks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dibawah Dinginnya Kabut Pagi Ranu Kumbolo

ranu alternate

PAGI itu tidak akan pernah lepas dari ingatan para pendaki Mahameru. Dingin menusuk, kabut bergulung di atas danau, seakan menyambut saya yang duduk bersama sahabat mencari hangat, sambil meminum kopi dari gelas yang sama.

Sesaat kemudian, mentari mulai muncul dari balik bukit. Memancarkan serpihan cahaya ke sekeliling lembahan. Merah muda, bak pipi seorang gadis jelita yang sedang tersipu. Pemancing mulai menambatkan umpannya, pendaki hilir mudik, dan saya masih memandang indahnya lukisan Tuhan ini.

Kehidupan pagi yang dimulai dengan cara yang sangat indah.

Before Sunrise Ranu Kumbolo

Inilah Ranu Kumbolo, surga-nya Mahameru. Tempat peristirahatan para pendaki yang akan, atau baru saja turun, dari Mahameru – puncak para dewa, tanah tertinggi di dataran Jawa.

Setelah sempat tersasar di malam hari karena menuruni punggungan yang salah, akhirnya saya sampai di ‘desa’ para pendaki Mahameru. Warna-warni tenda menghiasi pinggir danau ini. Danau dengan ketinggian 2500 meter diatas permukaan laut ini memang menjadi tempat favorit para pendaki di area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Saya sempat dua kali bermalam di Ranu kumbolo, saat perjalanan berangkat dan pulang. Tidak seperti Gunung Rinjani atau Gunung Gede yang memiliki beberapa jalur, semeru hanya memiliki satu jalur menuju Mahameru, sehingga mau tidak mau Danau ini akan terlewati.

Milky way show

Suguhan atraksi bimasakti saat malam hari juga menjadi salah satu momen yang tidak terlupakan. Sungguh malam yang sangat romantis. This is something that you didn’t see everyday.

Ranu kumbolo, sebuah lukisan alam yang begitu sempurna. Sebuah danau yang dikelilingi lembahan terjal yang gersang, dengan tanjakan cinta-nya yang membuat galau. Juga tanjakan galau dibalik tanjakan cinta yang membuat semakin galau (i named it). Karena ternyata jauh lebih menyakitkan daripada tanjakan cinta.

gulungan kabut pagi di atas danau

Dibalik itu semua, tempat ini adalah salah satu tempat yang membuat kita bersyukur, membuat kita tersenyum, membuat kita lebih menghargai hidup ini.

Terima kasih Mahameru untuk Ranu Kumbolo-nya, nanti saya akan kembali lagi, bersama orang yang saya cintai.

:)

Rakum dari Tanjakan Cinta

A little note

Oke, Ranu kumbolo emang indah. Tapi, please, kalo ente kesana dan buang hajat, tolong DIGALI dulu dan DIKUBUR yang bener! Jangan cuma ditaro pake batu (saya pernah kena jebakan betmen :hammer. Tissue basah juga tolong dikubur, atau lebih baik dibawa. Sampah juga jangan dibuang ke tempat pembakaran kalo yang kaleng atau plastik. Bawa balik sampah ente sendiri!

Cerita berikutnya : Menuju Tanah Tertinggi di Pulau Jawa

Comments

  1. says

    Jalur semeru banyak mas wira, termasuk lewat gunung ayek ayek, jadi ga ngelewatin pos satu dan seterusnya, tembusnya tepat di pos 4 ranu kumbolo hehehe.

  2. Eric says

    Halo, salam kenal Wira :)
    Mau minta masukan donk, saya ga sampe 2 mgg lagi mau berangkat ke Rana Kumbolo dan ke Pananjakan satu. Perjalanan kali ini bakalan kemping 2 malem.
    Pertanyaannya, apakah bisa nyaman membawa backpack plus sling utk peralatan kamera? :D Kyknya bodoh bgt nih pertanyaan, tapi bnr2 bingung kalo gear kgk dipisah hehehehe…
    Satu lagi, saya punya 1740, 24105, 50 dan 100mm. Saran Wira, saya sebaiknya membawa gear yg mana?

    Saya masih blank dgn kondisi disana soalnya hehehe…
    thanks a lot bro :)

    • says

      Halo mas Eric,

      Wow banyak sekali gear-ny :O
      Saran saya sih bawa satu atau dua lensa saja, misalnya 17-40 & 100, atau yang mana aja boleh hehe. Saya bawanya cuma 28 dan 50 (karena emang punya cuman itu hehe). Itu saya bawa di tas lowepro kecil, terus dicantol pake karabiner di dada. Soalnya backpack 40 liter saya udah penuh buat tenda/logistik dll.

      Trek Ranupane-Ranukumbolo lumayan nanjak terjal pas awal-awal, sisanya naik turun tapi gak terlalu curam. Saya waktu itu sekitar 3.5 jam. Sekalian sampai kalimati aja mas, edelweissnya keren2 hehe.

  3. Eric says

    Hehehe, ngumpulin dikit2 Bro :)
    1740 sih pasti pengen bawa, tinggal 100 atau 50 saya bingung. 50 menang di f1.4 tapi 100 menang di tele dan bisa macroan…. Which one to pick?? :((((

    Kalimati jaraknya brp lama lg dr Ranukumbolo ya? kebetulan 2 malam disana mgkn teman ada atur main kesana juga :D

    • Eric says

      Hehehehe, okeoke, thanks banget saran2nya Mas Wira, sedikit banyak membantu banget tuh :)

      Abis liat postingan yg di Kalimati, kok saya jadi jiper setengah matiiii :D
      hahahahahaha

      Thanks banyak info2nya ya Mas ;)

  4. nina fitriany says

    Setuju sama note nya!!!sekarang ranu kumbolo udah lebih parah dari wc umum….’harta karun’ dimana2….parahh……

  5. ary says

    Ddisebelah tanjakan cinta jga ada yg dnamakan tanjakan tinja….yg ngelewati bakal lebih galau….

  6. says

    penyampaian blognya keren, di pisah pisah jadi bacanya ngga males.
    Anwy aku juga pernah kena “ranjau” di jalur antar selter ranukumbolo – tempat ngecamp (ngecam di bawah bukit kembar), rasanaya jackpot banget.

  7. Eenk says

    Postingannya mas Wira bikin saya panas dingin..
    Semoga perdana k semeru juga bisa bersama orang yang saya cintai ^_^
    hope hope hope \(^O^)/

  8. AbestiaHaninil says

    foto2nya keren banget gan.
    merinding liatnya..
    pengen liat pake mata sendiri…
    like this pokoknya :)

  9. keplek says

    teringat 20 tahunan yang silam………
    .foto” saya kok gak ada yg sbagus adik ini ya hehehehe

  10. says

    kecantikan Ranu kumbolo memang ngangenin, semoga diberi kesempatan mengunjungi Rakum lagi someday, amin,
    walau sdh pernah kesana tetep mrinding liat foto-foto di atas,
    Rakum memang cantik sih,
    :)

  11. says

    Ah, belum genap sebulan saya ke Rankum dan ngecamp 3 malem disana, tapi udah kangen banget pengen balik lagi, dan next time pengennya bisa sampe ke Mahameru..:)

    fotonya keren bangets! :)

  12. emant says

    cerita daan foto fotonya bagus om suka banget sama tune nya, boleh tau pake kamera lensa n filter apa , selain itu apa lagi yang di perlukan buat LS fotografi heheh makasih

Trackbacks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *